sempat terganggu dengan quotebe leader or cheerleader” yang sempat diunggah teman di fb, tetapi penekanannya pingin memastikan dan memantaskan diri untuk jadi seorang leader.

tanpa mengesampingkan profesi cheerleader, tapi saat ini dalam hati saya, berdasarkan pengalaman pribadi, tiap orang pasti ingin menjadi seorang leader, namun tiap orang pasti juga punya wilayah/keterjangkauan masing2. ingin jadi leader nya siapa, ingin jadi leader dimana atau ingin dikenal/dikenang sebagai leader yang bagaimana. jujur saja saat ini saya merasa cukup menjadi leader untuk diri sendiri dan anak2. saya merasa kapasitas saya belum cukup mumpuni untuk bisa berpengaruh/mempengaruhi orang lain/suatu perkumpulan/suatu komunitas. predikat leader ini juga amat berat disandang meskipun untuk porsi terkecil sebagai leader untuk diri sendiri.

saya juga senang dan bangga kok jadi cheerleader, atau mungkin lebih pasnya supporter. jadi cheerleader garis terdepan untuk suami, jadi bagian penggembira ketika tahu ada temen yang sukses di suatu bidang atau profesinya. bagi saya ketika ada seseorang yang sukses haruslah ada orang lain yang bersorak sorai gembira dan memberinya semangat supaya sang leader bisa terus terpacu untuk mempertahankan prestasi bahkan meningkatkan kemampuan atau kapasitasnya.

jika ada seseorang yang sukses pastilah ada orang lain di baliknya. demikian pula dengan leader yang unggul dan tampil terdepan, pastilah ada banyak cheerleader di belakangnya ;).

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

Iklan

Sabtu kemarin (12 April), acaranya nemenin Lavina ikut lomba menoreh di Taman Remaja Surabaya. sudah diwanti wanti sama ustadzahnya supaya berkumpul jam 6.30 dikhawatirkan karena pesertanya dari TK se Surabaya (kurleb 2000an) supaya tidak berdesakan dan dapat tempat yang ga kepanasan. rombongan anak2 TK berangkat naik angkot tersendiri, sementara transportasi pendampingnya dibebaskan, mau naik motor, urunan angkot atau kendaraan pribadi.

Lombanya sendiri ada beberapa kelompok: lomba dolanan, lomba menyanyi, lomba puisi, lomba membuat pigura dan lomba menoreh. untuk lomba menoreh saya hanya berbekal meja lipat, krayon dan lidi, tidak lupa bawa minum dan snack. Abi malah sempat membawakan nama dada/ name tag (tertulis nama Lavina dan nomor telpon rumah) sebagai antisipasi membludaknya peserta dan lautan anak TK memakai baju seragam yang sama (baju olahraga kuning hijau khas TK), jika Vina sempat hilang/lepas dari rombongan.

Sampai di tempat baru sadar, tidak bawa alas untuk duduk (untuk bawa tas plastik, bisa dipakai alas duduk), karena ternyata tiap grup TK langsung menempati halaman di Taman Remaja dan menggelar peralatan masing2. ternyata ada banyak wahana mainan di tempat ini, baru tahu…kemana aja selama ini =)..

Banyak fenomena yang bisa diambil pelajaran dari kegiatan ini, nilai moralnya antara lain:

– memang di lomba menoreh ini, si anak bisa dibantu oleh pendamping, tapi yang banyak terjadi adalah (termasuk dari teman TK nya Vina) sang pendamping mengerjakan hampir 90% gambar, sementara anaknya duduk manis, ada jyang masih mengantuk, ada juga yang anaknya malah bermain wahana yang ada tanpa menghiraukan mamanya yang sibuk berlomba, ada juga ibu2 yang mendikte anaknya untuk gambar ini itu dan ketika sang anak tidak manut/ menuruti, malah dibentak/ dimarahi. halo ibu2…..ini yang lomba anaknya atau emaknya? bukannya di lomba ini anak belajar bertanggung jawab, berkreasi dan menuangkan imajinasinya, jangan malah dibatasi. ini waktu yang tepat mendidik dan melatih anak jadi kreatif, sportif dan mandiri.

– jagalah kebersihan dan latih anak untuk menjaga lingkungan. setelah lomba selesai, dan peserta meninggalkan tempat, yang tersisa malah alas duduk (koran/karton) dan sampah sisa minuman/makanan bercecer dimana-mana. padahal fasilitas tempat sampah tersebar di beberapa tempat. kenapa koran/karton yang tadi dibawa ditinggalkan begitu saja? apa susahnya membawa sampah sebentar saja dan membuang di tempat semestinya? ini jadi pelajaran negatif buat anak, si anak jadi berpikir ” o, ga papa ya sampahnya ditinggal disini aja”. ketika berada di tempat umum, tanamkan pada anak untuk turut menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat tersebut karena tempat ini dimanfaatkan banyak orang.

-belajar antri. untuk yang ini, apa susah sekali untuk belajar antri, baik di toilet, tempat membeli karcis ataupun antrian wahana/permainan. dengan antri banyak sekali pendidikan perilaku yang bisa dilatih: kita belajar bersabar, menghargai hak orang lain, empati, disiplin, manajemen waktu dll.

Alhamdulillah di lomba kemarin, Vina sangat menikmati, saya bebaskan dia berekspresi dalam torehannya (sesekali saya bantu sempunakan warna dan garisnya saja) serta belajar disiplin mengantri.  Benar ada yang bilang: sangatlah mudah mengajar anak membaca dan menulis, mungkin butuh 7 bulan saja, tapi butuh 7 tahun mendidik karakter anak untuk belajar antri, menjaga kebersihan dan sportif.

 

GambarIMG_20131212_051719

  • baru mau pup di WC menjelang umur 4 Th  (sebelumnya selalu gembol)
  • menyiapkan baju sendiri kalau mau mandi dan rawat
  • pake baju, sisir, bedak, miyak telon dan krim
  • hobi baru….pake parfum, sejak mulai sekolah (te rani tanggung jawab!!!)
  • bisa macthing baju sama asesoris (bando, kalung, jepit, gelang, cincin)
  • nulis namanya sendiri
  • lancar nulis angka 1, 3, 4, 5
  • nulis huruf arab a, ba, ta
  • sejak sekolah sudah ga pakai dot
  • sehari sebelum libur sekolah, mau diantar ga pake ditungguin Mak’e, tinggal dijemput aja
  • hafal doa2, hadits dan surat pendek

Alhamdulillah