sempat terganggu dengan quotebe leader or cheerleader” yang sempat diunggah teman di fb, tetapi penekanannya pingin memastikan dan memantaskan diri untuk jadi seorang leader.

tanpa mengesampingkan profesi cheerleader, tapi saat ini dalam hati saya, berdasarkan pengalaman pribadi, tiap orang pasti ingin menjadi seorang leader, namun tiap orang pasti juga punya wilayah/keterjangkauan masing2. ingin jadi leader nya siapa, ingin jadi leader dimana atau ingin dikenal/dikenang sebagai leader yang bagaimana. jujur saja saat ini saya merasa cukup menjadi leader untuk diri sendiri dan anak2. saya merasa kapasitas saya belum cukup mumpuni untuk bisa berpengaruh/mempengaruhi orang lain/suatu perkumpulan/suatu komunitas. predikat leader ini juga amat berat disandang meskipun untuk porsi terkecil sebagai leader untuk diri sendiri.

saya juga senang dan bangga kok jadi cheerleader, atau mungkin lebih pasnya supporter. jadi cheerleader garis terdepan untuk suami, jadi bagian penggembira ketika tahu ada temen yang sukses di suatu bidang atau profesinya. bagi saya ketika ada seseorang yang sukses haruslah ada orang lain yang bersorak sorai gembira dan memberinya semangat supaya sang leader bisa terus terpacu untuk mempertahankan prestasi bahkan meningkatkan kemampuan atau kapasitasnya.

jika ada seseorang yang sukses pastilah ada orang lain di baliknya. demikian pula dengan leader yang unggul dan tampil terdepan, pastilah ada banyak cheerleader di belakangnya ;).

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

Iklan

drama ibu pekerja

sudah menjadi cerita biasa bahwa ketika sudah memiliki anak dan kembali ke rutinitas bekerja (di luar rumah), akan meninggalkan penuh cerita drama.

berbagai drama unik selalu meliputi ibu-ibu bekerja yang memulai lagi rutinitasnya ketika masa cuti melahirkan telah usai. mulai dari cerita pemberian ASI, baik ekslusif mau pun susu formula, atau campuran keduanya, sampai cerita tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak selama ditinggal ke luar rumah untuk bekerja.

semua ibu pasti tahu, bahwa ASI ekslusif adalah makanan terbaik untuk anaknya, demi mempersiapkan masa depan anak sejak dini. namun kadang ada beberapa hal yang menyebabkan ibu pekerja kurang maksimal memenuhi kebutuhan ASI untuk anaknya. tak perlu kita saling menggurui atau menghakimi, setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, saya meyakini itu. saya pribadi sangat bangga jika ada ibu bekerja yang sanggup lulus ASI 6 bulan, bahkan sampai dengan 2 tahun. perjuangannya mempersembahkan apa yang menjadi hak anak tersebut merupakan perjuangan yang luar biasa, perjuangan waktu, ekstra tenaga, persiapan peralatan memerah yang harus selalu terbawa ke kantor dalam kondisi steril, dsb. namun demikian saya juga sadar ketika ada ibu-ibu yang karena beberapa hal sehingga kurang optimal mempersembahkan ASI untuk anaknya dan menjadikan susu formula sebagai gantinya. terhadap kondisi yang demikian, menurut saya, janganlah ibu yang sukses ASI kemudian menyatakan komentar pedas atau merendahkan terhadap ibu-ibu yang kurang sukses ASInya. sesama ibu kita pasti sudah bergelut dengan perjuangannya masing2, every motherhood is unique yet magical.

demikian juga soal pengasuhan anak. ada yang ikhlas mundur dari pekerjaan kantor demi tumbuh kembang anaknya supaya tidak ada yang terlewat, namun banyak juga yang masih berkutat dengan rutinitas kantoran, menghadapi macetnya jalanan, multi tasking dengan pikiran bercabang dan menghitung tiap jam supaya tetap dapat memantau keadaan anak di rumah lewat telepon dan cara lainnya. banyak yang mencoba bertahan dan segala cara diupayakan. jangan tanya perasaan ibu-ibu bekerja ketika meninggalkan rumah untuk tetap bekerja sementara anak sedang sakit, perjuangan perasaan yang luar biasa juga. pastinya ibu pekerja juga punya perasaan iri dan berandai andai bisa di rumah seharian bersama anak-anak. tapi, hidup ini pilihan, dan tiap jalan yang kita pilih harus kita terima dan jalani dengan segala konsekuensi masing-masing. every motherhood is unique yet magical.

bekerja ataupun tidak, di rumah ataupun yang kantoran, setiap ibu pasti ingin mempersembahkan yang terbaik bagi anak dan keluarganya.setiap ibu pasti memiliki cerita dan perjuangannya masing-masing. sesama ibu-ibu mari saling mendukung jalan yang dipilih masing-masing tanpa saling sindir, menghakimi atau menggurui, justru sebaiknya kita harus saling support terhadap pilihan terbaik masing-masing.

secara pribadi, sekalipun bekerja di luar rumah, saya juga menyimpan impian untuk punya usaha rumahan. betapa saya harus menyimpan stok kesabaran ketika anak mulai rewel ketika kita pamitan kerja, ketika anak bisa berujar ” bunda jangan kerja” atau “aku mau ikut bunda kerja”, its really break my heart. memang segala sesuatu untuk anak dan keluarga pasti layak untuk diperjuangkan, mari saling support dan menghargai jalan masing-masing, karena setiap ibu pasti berjuang untuk menjadi ibu yang terbaik dengan versinya masing-masing.

ikut ke kantorga mau ditinggal pas hari sabtu

BELAJAR TIADA HENTI, ILMU HARUS DIKEJAR

Belajar terus tanpa jemu,

dengan belajar, pastikan dapat ilmu baru sebagai harta baru.

ilmu itu harta yang paling menyenangkan, mudah didapatkan (kalau mau, ga harus lewat pendidikan formal melulu) dan

mudah dibawa kemana-mana tanpa memberatkan pemiliknya.

Pelajar itu harusnya profesi seumur hidup, berlaku selamanya.

(terinspirasi dari tulisannya Jihan Davincka)

DSC_3822[1]

siap berangkat sekolah

siap berangkat sekolah

Sabtu kemarin (12 April), acaranya nemenin Lavina ikut lomba menoreh di Taman Remaja Surabaya. sudah diwanti wanti sama ustadzahnya supaya berkumpul jam 6.30 dikhawatirkan karena pesertanya dari TK se Surabaya (kurleb 2000an) supaya tidak berdesakan dan dapat tempat yang ga kepanasan. rombongan anak2 TK berangkat naik angkot tersendiri, sementara transportasi pendampingnya dibebaskan, mau naik motor, urunan angkot atau kendaraan pribadi.

Lombanya sendiri ada beberapa kelompok: lomba dolanan, lomba menyanyi, lomba puisi, lomba membuat pigura dan lomba menoreh. untuk lomba menoreh saya hanya berbekal meja lipat, krayon dan lidi, tidak lupa bawa minum dan snack. Abi malah sempat membawakan nama dada/ name tag (tertulis nama Lavina dan nomor telpon rumah) sebagai antisipasi membludaknya peserta dan lautan anak TK memakai baju seragam yang sama (baju olahraga kuning hijau khas TK), jika Vina sempat hilang/lepas dari rombongan.

Sampai di tempat baru sadar, tidak bawa alas untuk duduk (untuk bawa tas plastik, bisa dipakai alas duduk), karena ternyata tiap grup TK langsung menempati halaman di Taman Remaja dan menggelar peralatan masing2. ternyata ada banyak wahana mainan di tempat ini, baru tahu…kemana aja selama ini =)..

Banyak fenomena yang bisa diambil pelajaran dari kegiatan ini, nilai moralnya antara lain:

– memang di lomba menoreh ini, si anak bisa dibantu oleh pendamping, tapi yang banyak terjadi adalah (termasuk dari teman TK nya Vina) sang pendamping mengerjakan hampir 90% gambar, sementara anaknya duduk manis, ada jyang masih mengantuk, ada juga yang anaknya malah bermain wahana yang ada tanpa menghiraukan mamanya yang sibuk berlomba, ada juga ibu2 yang mendikte anaknya untuk gambar ini itu dan ketika sang anak tidak manut/ menuruti, malah dibentak/ dimarahi. halo ibu2…..ini yang lomba anaknya atau emaknya? bukannya di lomba ini anak belajar bertanggung jawab, berkreasi dan menuangkan imajinasinya, jangan malah dibatasi. ini waktu yang tepat mendidik dan melatih anak jadi kreatif, sportif dan mandiri.

– jagalah kebersihan dan latih anak untuk menjaga lingkungan. setelah lomba selesai, dan peserta meninggalkan tempat, yang tersisa malah alas duduk (koran/karton) dan sampah sisa minuman/makanan bercecer dimana-mana. padahal fasilitas tempat sampah tersebar di beberapa tempat. kenapa koran/karton yang tadi dibawa ditinggalkan begitu saja? apa susahnya membawa sampah sebentar saja dan membuang di tempat semestinya? ini jadi pelajaran negatif buat anak, si anak jadi berpikir ” o, ga papa ya sampahnya ditinggal disini aja”. ketika berada di tempat umum, tanamkan pada anak untuk turut menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat tersebut karena tempat ini dimanfaatkan banyak orang.

-belajar antri. untuk yang ini, apa susah sekali untuk belajar antri, baik di toilet, tempat membeli karcis ataupun antrian wahana/permainan. dengan antri banyak sekali pendidikan perilaku yang bisa dilatih: kita belajar bersabar, menghargai hak orang lain, empati, disiplin, manajemen waktu dll.

Alhamdulillah di lomba kemarin, Vina sangat menikmati, saya bebaskan dia berekspresi dalam torehannya (sesekali saya bantu sempunakan warna dan garisnya saja) serta belajar disiplin mengantri.  Benar ada yang bilang: sangatlah mudah mengajar anak membaca dan menulis, mungkin butuh 7 bulan saja, tapi butuh 7 tahun mendidik karakter anak untuk belajar antri, menjaga kebersihan dan sportif.

 

hujan dan pelangi

hampir setiap sore hujan datang padahal siangnya benar benar terik untuk ditantang.

berharap selalu ada pelangi di penghujung hujan.

begitu juga siklus hidup, lika liku perjalanan dan kejadian dari pagi sampai datang pagi lagi, mulai senin sampai minggu, awal bulan sampai penutup bulan, hingga tak terasa tahun berganti.

melewati hari akhir akhir ini penuh warna merah, abu-abu, ungu, kelabu…

begitu repot dan susahnya pamitan sama anak lanang,

maunya gendong, maunya diajak jalan-jalan dulu, maunya dibelikan jajanan dulu, maunya mik susu dulu,

ngomong pelan dia nangis, apalagi keras dikit malah mewek dianya.

satu lagi ujian kesabaran dan keikhlasan lainnya,

mbak yang ngemong anak2 pamitan pulang kampung dan ga balik lagi karena sakit dia tidak diijinkan kerja sama orang tuanya,

si nduk lagi batuk, panas pilek…

berharap hujan segera reda, segera datang pelangi yang indah dipandang mata