bincang bocah 2

edisi ngobrol sama Lavina (Vina)

V: bunda, tahu nggak kesurupan itu apa?

B: mbak Vina tahu dari mana kesurupan itu?

V: Sasa yang bilang, kata Sasa Balqis lo kesurupan. kesurupan itu apa?

B: kesurupan itu kayak ga sadar, kayak pingsan gitu

V: kayak sakit ya? tapi Balqis kesurupan kok masih bisa nari?

B:??????

—————————————————-

V:  bunda, nanti kalau aku SD aku mau dipanggil ebigeil (dapat nama ini ketika nonton Big Hero 6)

B: lho, kenapa, namanya Lavina kok panggilannya abigail?

V: bukan abigail, tapi ebigail. kan bagus bunda

B: Lavina itu juga nama yang bagus, dulu bunda yang pilih nama itu buat mbak Vina

V: tapi aku pingin ganti nama ebigeil.

B: ya udah mbak Vina masuk perut lagi aja, nanti kalau lahir dikasih nama ebigeil

V: ga mau ah masuk perut, nanti jadi bayi lagi

B: 😉

My lovely Lavina

My lovely Lavina

guru kehidupan

yang terjadi semalam benar-benar membuat dada sesak dan tak terasa ada aliran air tak putus putus berasal dari mata.

malam itu, ketika sedang sholat berjamaah isya dengan Abi, terdengar pertengkaran, berebut barang/mainan, adu mulut antara vina dan thariq.

entah siapa yang memulai, tiba2 si sulung menangis keras dan tersedu-sedu. padahal setelah berulang tahun ke 4, jarang sekali vina menangis kecuali jika benar2 sakit, semisal terjatuh. sholat jadi ga bisa khusyuk karena keduanya masing bertengkar, vina masih menangis bahkan sempak memeluk saya.

sambil menangis dia berujar, “sudah le, minta maaf le, ga boleh pukul”.

masih dalam kondisi sholat terdengar tangis vina lambat laun mereda, tapi dia tak henti berucap ” minta maaf le, sayang, salaman”.

ketika selesai sholat, vina langsung merengkuh saya dengan terisak-isak, saya hanya berusaha menenangkan karena-entah- saya juga ikut mewek melihat dan mengingat kejadian itu.

malam itu saya belajar, ketika menjadi orang tua, kita berperan menjadi murid, dan anak2 kitalah gurunya.

dari anak, kita belajar untuk sabar, sabar yang tidak berbatas seperti saat menasehati anak dia malah tidak memperhatikan kita atau hanya sekedar menjawab “iya bunda, iya abi”

dari anak, kita belajar ikhlas, ikhlas dengan kejadian pertengkaran yang telah terjadi, melupakan dan hanya mengambil hikmahnya saja. anak kecil cepat sekali lupa, semenit yang lalu dia menangis, 2 menit lagi sudah bisa terbahak.

dari anak, kita belajar, belajar terus bahwa menjadi orang tua memang harus terus belajar, dari pengalaman dan dari tiap kejadian.

Gambar

Gambar

rukun terus ya nak…kalaupun ada perselisihan segera selesaikan, salaman dan sayang-sayangan.