Pelajaran mudik pas lebaran

bagi yang sudah berkeluarga dan jauh dari daerah asal, sudah lumrah ketika lebaran tiba menjalani ritual mudik. ada hikmah menarik sarat makna dari kegiatan mudik ini.

terinspirasi dari catatan crossline ‘Nadia Citra’, fenomena mudik ini luar biasa analoginya hampir sama dengan menjalani bisnis saya yang modalnya relatif kecil, tanpa butuh keahlian khusus/skill, yang tekun berusaha dan berdoa insaAllah pasti berhasil.

saat mudik, tujuan kita pasti jelas mau kemana. ibarat bisnis juga pasti ada tujuannya, ingin dapat laba atau kalau di oriflame ini ada juga jenjang karirnya mau sampai pada level apa, mau yang sebulan dapat bonusnya berapa, hadiah mobil dan jalan2 gratis juga ada.

ingin cepat untung? bisa, coba bisnis property, real estate, buka butik, buka cafe, tapi modalnya pasti selangit. ibarat mudik, bisa saja karena ingin cepat sampai tujuan, pesan tiket pesawat, tapi modalnya pasti juga berlipat. modal yang terjangkau, mudik ala darat, tapi pasti mengalami yang namanya macet, bosan di jalan, yang bawa anak apalagi baby, pasti juga mengalami beberapa hambatan, misalnya anak rewel, muntah, lapar, dll. hal hal tersebut pastinya akan membuat kita berhenti sejenak, tapi setelah itu apa ada pikiran untuk balik badan dan putar haluan? 

tidak ya, karena tujuan kita sudah jelas, tempat yang kita tuju itu merupakan garis finish yang sudah dinanti-nantikan. sekalipun macet, kepanasan, pegel, capek, pasti tetap fokus pada tujuan, ga pake balik badan.

sama dengan bisnis ini, berproses mendaki tangga suksesnya (success plan) pasti ga instan. ada saja yang namanya halangan dan rintangan (ga sukses rekrut, gagal jualan, ditinggal downline, dicuekin upline–kalau yang dua terakhir sih alhamdulillah saya enggak alami =)), tapi semua itu jangan sampai bikin kita surut semangat dan balik badan.

tetap fokus pada impian dan tujuan, daki terus tangganya dengan tetap bergandengan tangan sama jaringan dengan rasa kekeluargaan.

berikut cuplikan mudik Juli 2014 kemarin, ritual mudik, suami paling hobi ngajak keliling desa, nyari suguhan pemandangan yang masih alami, jauh dari peradaban kota =). sebenarnya kemarin itu penasaran dengan desa Bambang, yang memproduksi kemal (keju malang) http://www.malangkab.go.id/potensi-daerah-02-42.html, tapi sayang karena liburan ga ada proses produksi.

ketika mudik, hobi suami mengajak jejalah desa

ketika mudik, hobi suami mengajak jejalah desa

anak lanang duduk depan

anak lanang duduk depan

liburan ke mall? tempat rekreasi? jauh dari kamus keluarga kami, jauh2 kami ingin lihat sapi =)

liburan ke mall? tempat rekreasi? jauh dari kamus keluarga kami, jauh2 kami ingin lihat sapi =)

minus khusnul dan abi

minus khusnul dan abi

i do change

tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan, segala sesuatu pasti berubah, justru perubahan itu sendiri lah yang abadi.

saya sendiri mengalami banyak mengalami perubahan sampai detik menulis blog ini.

sebut saja ini episode pertama, CITA-CITA,

ike kecil waktu SD bercita-cita menjadi guru, maklum mungkin karena ibu saya juga seorang guru SD. ga tanggung-tanggung waktu itu yang ada di benak saya adalah menjadi guru SD di pelosok. angan saya tentang pelosok adalah daerah yang masih belum punya jalan aspal, jalannya berbukit dan melewati hutan/ pekarangan menuju sekolah sederhana tanpa pagar hiasan/cat warna warni dengan halaman yang luas yang dilengkapi tiang bendera.

Gambar

beranjak SMP, masih berkeinginan kelak akan menjadi guru di pelosok, sembari ada bayangan ketika pulang mengajar saya masih akan sibuk menerima jahitan, atau memasak/membuat kue dan saya juga pingin punya salon. he…kayaknya rempong banget ya, tapi memang saya senang sekali menggambar/ mendesain baju, membeli kain dan menjahitkannya ke orang untuk saya pakai. saya sering terinspirasi dari baju-baju mainan bongkar pasang. dari permainan bongkar pasang pun sering terinspirasi untuk membuat/ mendesain rumah tinggal nyaman untuk mendukung permainan itu. saya juga senang melihat buku resep dan mencatat/mengkliping resep masakan terutama kue. kalau salon…mungkin karena tinggal dan besar di desa, salon masih merupakan tempat yang langka (yang banyak tukang cukur), jadi kalau di rumah ada salon rasanya gimana gitu, seneng aja kayaknya.

Gambar

ketika SMA terdoktrin oleh keluarga untuk menjadi dokter ketika dewasa. entahlah, dokter itu sebenarnya cita-cita kakek nenek yang terpatri untuk cucu-cucunya, pokoknya cucu kakek/nenek harus ada yang jadi dokter, titik. berasal dari keluarga besar (dari ibu saya), ketika satu per satu kakak sepupu saya tidak ada yang tembus UMPTN kedokteran, cita-cita itu dibebankan pada saya. yang saya ingat, saya oke-oke saja dengan mandat tersebut, rajin belajar dan lambat laun cita-cita untuk menjadi guru hilang dari angan. parahnya saking fokus supaya tembus kuliah kedokteran, saya sampai tidak punya jurusan pilihan kedua ketika akan tes UMPTN. ketika beberapa kali try out UMPTN pun, pilihan pertama selalu kedokteran dan pilihan kedua selalu ngawur sekenanya saja.

akhirnya UMPTN tahun 1999 pilihan pertama adalah kedokteran dan pilihan kedua jurusan arsitektur yang dua-duanya saya memilih universitas di Surabaya. ketika pengumuman UMPTN pun sebenarnya penuh drama, akhirnya nama saya tercacat di koran lulus UMPTN di pilihan ke2 yaitu Arsitektur. kehidupan kuliah penuh lika-liku saya jalani di masa ini sampai akhirnya bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. masa itu masih jarang mahasiswa yang lulus tepat waktu, sehingga saat saya lulus bersama 12 teman lainnya, kami mendapat penghargaan dari Kepala Jurusan.

saat kuliah ini, cita-cita saya menjadi absurd, ga jelas, yang penting nanti dapat kerja dan dapet duit, simple. karena saya numpat budhe waktu kuliah, dan beliau adalah single mom dengan 3 anak, yang ada dalam pikiran saya waktu itu, harus cepat dapat kerja, kerja apa aja, yang penting ada hasilnya dan segera membahagiakan orang tua dan keluarga.

setelah lulus tahun 2003, sempat kerja bareng teman bikin konsultan, kerja pabrik punya bos orang jepang, kerja di asuransi sebulan, akhirnya berakhir kerja di pemerintahan.

sekarang, setelah berkeluarga dan punya 2 anak, rasanya pingin di rumah saja tapi tetap berpenghasilan. menemani buah hati yang sedang bertumbuh kembang. melakoni rutinitas rumahan, memasak, membuat kudapan dan merawat taman. saya pribadi juga masih menyimpan banyak impian.

apakah cita-cita ini masih akah berubah? saat ini yang ada di angan adalah keluar dari rutinitas kantoran, jadi orang rumahan tapi tetap berkarya dan menghasilkan. berjuang!

Gambar