BELAJAR TIADA HENTI, ILMU HARUS DIKEJAR

Belajar terus tanpa jemu,

dengan belajar, pastikan dapat ilmu baru sebagai harta baru.

ilmu itu harta yang paling menyenangkan, mudah didapatkan (kalau mau, ga harus lewat pendidikan formal melulu) dan

mudah dibawa kemana-mana tanpa memberatkan pemiliknya.

Pelajar itu harusnya profesi seumur hidup, berlaku selamanya.

(terinspirasi dari tulisannya Jihan Davincka)

DSC_3822[1]

siap berangkat sekolah

siap berangkat sekolah

Pelajaran mudik pas lebaran

bagi yang sudah berkeluarga dan jauh dari daerah asal, sudah lumrah ketika lebaran tiba menjalani ritual mudik. ada hikmah menarik sarat makna dari kegiatan mudik ini.

terinspirasi dari catatan crossline ‘Nadia Citra’, fenomena mudik ini luar biasa analoginya hampir sama dengan menjalani bisnis saya yang modalnya relatif kecil, tanpa butuh keahlian khusus/skill, yang tekun berusaha dan berdoa insaAllah pasti berhasil.

saat mudik, tujuan kita pasti jelas mau kemana. ibarat bisnis juga pasti ada tujuannya, ingin dapat laba atau kalau di oriflame ini ada juga jenjang karirnya mau sampai pada level apa, mau yang sebulan dapat bonusnya berapa, hadiah mobil dan jalan2 gratis juga ada.

ingin cepat untung? bisa, coba bisnis property, real estate, buka butik, buka cafe, tapi modalnya pasti selangit. ibarat mudik, bisa saja karena ingin cepat sampai tujuan, pesan tiket pesawat, tapi modalnya pasti juga berlipat. modal yang terjangkau, mudik ala darat, tapi pasti mengalami yang namanya macet, bosan di jalan, yang bawa anak apalagi baby, pasti juga mengalami beberapa hambatan, misalnya anak rewel, muntah, lapar, dll. hal hal tersebut pastinya akan membuat kita berhenti sejenak, tapi setelah itu apa ada pikiran untuk balik badan dan putar haluan? 

tidak ya, karena tujuan kita sudah jelas, tempat yang kita tuju itu merupakan garis finish yang sudah dinanti-nantikan. sekalipun macet, kepanasan, pegel, capek, pasti tetap fokus pada tujuan, ga pake balik badan.

sama dengan bisnis ini, berproses mendaki tangga suksesnya (success plan) pasti ga instan. ada saja yang namanya halangan dan rintangan (ga sukses rekrut, gagal jualan, ditinggal downline, dicuekin upline–kalau yang dua terakhir sih alhamdulillah saya enggak alami =)), tapi semua itu jangan sampai bikin kita surut semangat dan balik badan.

tetap fokus pada impian dan tujuan, daki terus tangganya dengan tetap bergandengan tangan sama jaringan dengan rasa kekeluargaan.

berikut cuplikan mudik Juli 2014 kemarin, ritual mudik, suami paling hobi ngajak keliling desa, nyari suguhan pemandangan yang masih alami, jauh dari peradaban kota =). sebenarnya kemarin itu penasaran dengan desa Bambang, yang memproduksi kemal (keju malang) http://www.malangkab.go.id/potensi-daerah-02-42.html, tapi sayang karena liburan ga ada proses produksi.

ketika mudik, hobi suami mengajak jejalah desa

ketika mudik, hobi suami mengajak jejalah desa

anak lanang duduk depan

anak lanang duduk depan

liburan ke mall? tempat rekreasi? jauh dari kamus keluarga kami, jauh2 kami ingin lihat sapi =)

liburan ke mall? tempat rekreasi? jauh dari kamus keluarga kami, jauh2 kami ingin lihat sapi =)

minus khusnul dan abi

minus khusnul dan abi

catatan usai lebaran

sudah lama tidak berbagi rasa,
banyak yang ingin dicatat, langsung rekap saja

april
alhamdulillah tabungan setahun untuk berlibur bisa pergi ber4 ke Bali,
3 hari dua malam (Jumat 18-20 April) , berangkat pagi2 naik taxi jam 4 ke bandara padahal anak2 masih bobok, jadi langsung dibangunkan tanpa mandi 😉
Thariq juga pas masih sakit, jadi liburan bawa obat, dan tiap hari ada 2/3 destinasi yang tidak bisa sy nikmati karena jagain Thariq yang lagi bobok di bis.
tiap malam nyampe hotel sy dan suami nggendong anak satu-satu, tapi tetep dong ini pengalaman yang seru…
alhamdulillah di C4 ini naik level manager 12% Oriflame.
sebulan menjalankan FC bareng suami.

mei
bepergian lagi, sekeluarga rame2 ke jakarta (opa, mak’e, te Yuli, mami Hanik, te iik, Om Heri, Carissa dan kami) ke sunatannya Mikola (sabtu 24-26 Mei).
menginap rame2 itu…seru…
bisnis oriflame alhamdulillah lancar, naik lagi C5 manager 15%.
gabung ODOJ 221 dengan bantuan mbak De ( masrafa.com) langsung dapat jatah juz 23.

juni
Lavina ultah ke 5, persiapan serta instan, alhamdulillah acaranya lancar dan menyenangkan.
lagi rame berita dan status tentang capres di sosmed, alhamdulillah bisa mengawali puasa dengan penuh syukur.
pindahan….alhamdulillah Mak’e sekeluarga lebih dekat masjid juga, semoga barakah.
menutup bulan C6 last minute manager 18%.

juli
pemilu presiden yang bersejarah menurut saya karena benar2 heboh di media, masing2 capres punya fans fanatik.
berita pilu dari Gaza….
Lebaran, liburan, mudik, macetnya….
seneng kumpul2 keluarga, Buded, Pakde, ka Maureen, Mikola lebarannya di Surabaya, te Rani gabung juga.
mudik wajak, ada pertemuan keluarga juga, sempat mampir nongkojajar, turen, mbambang, japanan, piuh…

agustus
mengawali bulan setelah liburan itu…..
penuh drama, mulai ninggal anak2 kerja sedangkan ART belum ada.
tapi it’s ok, the show must go on, keep strong.
“orang yang memutuskan untuk berhenti dan gagal, padahal mereka tidak mau melangkah lagi untuk keberhasilan,
mereka hanya tidak cukup sabar menunggu…
waktu tergelap adalah dini hari, dimana sebentar lagi akan ada matahari (Merry Riana)”

Alkisah ART

cerita tentang ART (Asisten Rumah Tangga) pasti ga ada habisnya.

mungkin baru habis atau berakhir kalau anak2 sudah mandiri, minimal kelas 3 SD dan sudah bisa bekerja di rumah sendiri (alias tidak terikat jam/ waktu kerja) — semoga bisa segera punya profesi dengan jam kerja yang flexibel.

semula ketika lahiran putri pertama, Lavina Putri Halimatuzzahrah, ketika cuti melahirkan akan habis, sudah memastikan bahwa Vina (waktu itu panggilannya Lala) akan dititipkan di Penitipan Anak sekitar Ngagel Tirto. jangan ditanya masalah tega ga tega, keputusan tetap harus diambil dan dipilih.

kurang lebih di penitipan ini sampai umur 6 bulan saja, karena pertimbangan vina sering sakit (entah itu tertular teman di penitipan atau imbas dari polusi di jalan/ waktu itu akomodasi dengan sepeda motor, si iwin). keputusan untuk “mengeluarkan” vina dari penitipan dan diasuh di rumah, setelah sebelumnya hunting pengasuh/baby sitter di beberapa tempat. gaji pengasuh bayi waktu itu/ tahun 2009 sekitar 1.250.000 sudah tergolong malang menurut saya, tapi pilihan telah ditetapkan.

Namanya mbak Tya (Cinthya- keren ya, nama kota gitu he..), bertahan hanya 1 tahun. ambilnya dari yayasan. setelah lebaran, pamit tidak kembali kerja dengan alasan akan menikah, yang akhirnya saya tahu, itu adalah alasan klise ART.

tahun kedua, dari yayasan yang berbeda, punya pengasuh namanya mbak Is (Istianah), hanya setahun juga. pas Thariq lahir , setelah lebaran mbak Is pamitan tidak balik kerja lagi, alasannya; menikah!

setahun itu merupakan waktu yang cukup lama ART mengasuh anak2. yang bekerjanya seminggu, 2 hari, bahkan semalam juga pernah. mbak pipit, seminggu aja sama vina, alasannya “adik ga mau sama saya bu”, he…vina memang waktu kecil susah sekali akrab sama orang. mbak lely (dapat dari saudara) cuma 3 hari, alasannya, ga jelas, katanya pokoknya pingin pulang. ditanya kenapa ga kerasan, ga dijawab. ditanya apa pekerjaannya terlalu berat, ga dijawab juga. bingung dah, ya wis lah ga maksa. rekor jatuh pada mbak legini (dari desa saya), cuma semalam saja di rumah saya, besok paginya ngotot ga mau kerja dan mau balik ke tempat kerja yang lama. dari para ART kita belajar ikhlas dan sabar yang tak berbatas.

kemudian ada rekomendasi dari yang biasa bantu di rumah (bu Nem), ada tetangga kontrakannya yang butuh kerja, mbak Titi. meskipun bukan dari yayasan, tapi bergaji sama dengan suster-suster yang mengasuh bayi. ini juga satu tahun saja, berakhir dengan alasan mau nikah! baiklah, lama-lama terbiasa dengan alasan seperti itu, kerja ART yang tahunan seperti itu, dengan semua drama tingkah polah ART, dibilang makan ati, ya…pelajaran sabar dan memang saya butuh tenaga mereka adalah alasan untuk tetap menggunakan jasa ART.

adalah bu Dar (tetangga di desa) yang kemudian mengasuh Thariq Haidar Nur Ramadhan. lumayan berumur, karena sebelumnya ART saya masih lebih muda usianya, bu Dar ini saya yakini bakal lama kerja di rumah (minimal lebih dari setahun). tapi ternyata ga sampe setahun sudah cabut juga, alasannya: anak yang pertama lulus SMA, dan yang kedua mau SMP sama2 butuh perhatian beliau. ya sudahlah, meskipun keputusan yang tiba-tiba ini tanpa antisipasi jadi tidak punya pengganti untuk ngasuh anak2 (waktu itu seingat saya sekitar Mei 2013).

kemudian ada informasi bahwa ternyata mbak Titi balik ke Surabaya untuk bekerja. akhirnya dia mau jadi ART tapi ga nginep, datang pagi, pulang setelah saya pulang kerja. diterima aja, daripada ga ada, memang lagi butuh bisa apa saya? tapi kemudian dia sakit dan pulang kampung, sembuh, kerja lagi dan sakit lagi lalu pamitan ga boleh kerja lagi sama keluarganya, oh sungguh drama. di selang waktu itu ada bik Sum (dulu ART tetangga rumah) mau kerja tapi ga nginep. ya wis sekarang bik Sum ini yang ngasuh anak2.

sampai akhirnya per selasa 29 April kemaren ada mbak juwariyah, ART dan mau nginep. semoga kerasan, semoga anaknya baik dan jujur, semoga anak2 juga suka, semoga…

yang terpenting semoga saya bisa segera bebas menentukan jam kerja saya dan bebas ART. amin.

dalam rangka Hari Buruh (meski telat sehari), saya juga masih merasa sebagai buruh/ abdi yang kerjanya digaji berdasarkan absensi =), kuatir banget telat henki, kalau teman lainnya lembur tapi saya pulang duluan, rasanya sungguh keki.

Sabtu kemarin (12 April), acaranya nemenin Lavina ikut lomba menoreh di Taman Remaja Surabaya. sudah diwanti wanti sama ustadzahnya supaya berkumpul jam 6.30 dikhawatirkan karena pesertanya dari TK se Surabaya (kurleb 2000an) supaya tidak berdesakan dan dapat tempat yang ga kepanasan. rombongan anak2 TK berangkat naik angkot tersendiri, sementara transportasi pendampingnya dibebaskan, mau naik motor, urunan angkot atau kendaraan pribadi.

Lombanya sendiri ada beberapa kelompok: lomba dolanan, lomba menyanyi, lomba puisi, lomba membuat pigura dan lomba menoreh. untuk lomba menoreh saya hanya berbekal meja lipat, krayon dan lidi, tidak lupa bawa minum dan snack. Abi malah sempat membawakan nama dada/ name tag (tertulis nama Lavina dan nomor telpon rumah) sebagai antisipasi membludaknya peserta dan lautan anak TK memakai baju seragam yang sama (baju olahraga kuning hijau khas TK), jika Vina sempat hilang/lepas dari rombongan.

Sampai di tempat baru sadar, tidak bawa alas untuk duduk (untuk bawa tas plastik, bisa dipakai alas duduk), karena ternyata tiap grup TK langsung menempati halaman di Taman Remaja dan menggelar peralatan masing2. ternyata ada banyak wahana mainan di tempat ini, baru tahu…kemana aja selama ini =)..

Banyak fenomena yang bisa diambil pelajaran dari kegiatan ini, nilai moralnya antara lain:

– memang di lomba menoreh ini, si anak bisa dibantu oleh pendamping, tapi yang banyak terjadi adalah (termasuk dari teman TK nya Vina) sang pendamping mengerjakan hampir 90% gambar, sementara anaknya duduk manis, ada jyang masih mengantuk, ada juga yang anaknya malah bermain wahana yang ada tanpa menghiraukan mamanya yang sibuk berlomba, ada juga ibu2 yang mendikte anaknya untuk gambar ini itu dan ketika sang anak tidak manut/ menuruti, malah dibentak/ dimarahi. halo ibu2…..ini yang lomba anaknya atau emaknya? bukannya di lomba ini anak belajar bertanggung jawab, berkreasi dan menuangkan imajinasinya, jangan malah dibatasi. ini waktu yang tepat mendidik dan melatih anak jadi kreatif, sportif dan mandiri.

– jagalah kebersihan dan latih anak untuk menjaga lingkungan. setelah lomba selesai, dan peserta meninggalkan tempat, yang tersisa malah alas duduk (koran/karton) dan sampah sisa minuman/makanan bercecer dimana-mana. padahal fasilitas tempat sampah tersebar di beberapa tempat. kenapa koran/karton yang tadi dibawa ditinggalkan begitu saja? apa susahnya membawa sampah sebentar saja dan membuang di tempat semestinya? ini jadi pelajaran negatif buat anak, si anak jadi berpikir ” o, ga papa ya sampahnya ditinggal disini aja”. ketika berada di tempat umum, tanamkan pada anak untuk turut menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat tersebut karena tempat ini dimanfaatkan banyak orang.

-belajar antri. untuk yang ini, apa susah sekali untuk belajar antri, baik di toilet, tempat membeli karcis ataupun antrian wahana/permainan. dengan antri banyak sekali pendidikan perilaku yang bisa dilatih: kita belajar bersabar, menghargai hak orang lain, empati, disiplin, manajemen waktu dll.

Alhamdulillah di lomba kemarin, Vina sangat menikmati, saya bebaskan dia berekspresi dalam torehannya (sesekali saya bantu sempunakan warna dan garisnya saja) serta belajar disiplin mengantri.  Benar ada yang bilang: sangatlah mudah mengajar anak membaca dan menulis, mungkin butuh 7 bulan saja, tapi butuh 7 tahun mendidik karakter anak untuk belajar antri, menjaga kebersihan dan sportif.

 

i do change

tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan, segala sesuatu pasti berubah, justru perubahan itu sendiri lah yang abadi.

saya sendiri mengalami banyak mengalami perubahan sampai detik menulis blog ini.

sebut saja ini episode pertama, CITA-CITA,

ike kecil waktu SD bercita-cita menjadi guru, maklum mungkin karena ibu saya juga seorang guru SD. ga tanggung-tanggung waktu itu yang ada di benak saya adalah menjadi guru SD di pelosok. angan saya tentang pelosok adalah daerah yang masih belum punya jalan aspal, jalannya berbukit dan melewati hutan/ pekarangan menuju sekolah sederhana tanpa pagar hiasan/cat warna warni dengan halaman yang luas yang dilengkapi tiang bendera.

Gambar

beranjak SMP, masih berkeinginan kelak akan menjadi guru di pelosok, sembari ada bayangan ketika pulang mengajar saya masih akan sibuk menerima jahitan, atau memasak/membuat kue dan saya juga pingin punya salon. he…kayaknya rempong banget ya, tapi memang saya senang sekali menggambar/ mendesain baju, membeli kain dan menjahitkannya ke orang untuk saya pakai. saya sering terinspirasi dari baju-baju mainan bongkar pasang. dari permainan bongkar pasang pun sering terinspirasi untuk membuat/ mendesain rumah tinggal nyaman untuk mendukung permainan itu. saya juga senang melihat buku resep dan mencatat/mengkliping resep masakan terutama kue. kalau salon…mungkin karena tinggal dan besar di desa, salon masih merupakan tempat yang langka (yang banyak tukang cukur), jadi kalau di rumah ada salon rasanya gimana gitu, seneng aja kayaknya.

Gambar

ketika SMA terdoktrin oleh keluarga untuk menjadi dokter ketika dewasa. entahlah, dokter itu sebenarnya cita-cita kakek nenek yang terpatri untuk cucu-cucunya, pokoknya cucu kakek/nenek harus ada yang jadi dokter, titik. berasal dari keluarga besar (dari ibu saya), ketika satu per satu kakak sepupu saya tidak ada yang tembus UMPTN kedokteran, cita-cita itu dibebankan pada saya. yang saya ingat, saya oke-oke saja dengan mandat tersebut, rajin belajar dan lambat laun cita-cita untuk menjadi guru hilang dari angan. parahnya saking fokus supaya tembus kuliah kedokteran, saya sampai tidak punya jurusan pilihan kedua ketika akan tes UMPTN. ketika beberapa kali try out UMPTN pun, pilihan pertama selalu kedokteran dan pilihan kedua selalu ngawur sekenanya saja.

akhirnya UMPTN tahun 1999 pilihan pertama adalah kedokteran dan pilihan kedua jurusan arsitektur yang dua-duanya saya memilih universitas di Surabaya. ketika pengumuman UMPTN pun sebenarnya penuh drama, akhirnya nama saya tercacat di koran lulus UMPTN di pilihan ke2 yaitu Arsitektur. kehidupan kuliah penuh lika-liku saya jalani di masa ini sampai akhirnya bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. masa itu masih jarang mahasiswa yang lulus tepat waktu, sehingga saat saya lulus bersama 12 teman lainnya, kami mendapat penghargaan dari Kepala Jurusan.

saat kuliah ini, cita-cita saya menjadi absurd, ga jelas, yang penting nanti dapat kerja dan dapet duit, simple. karena saya numpat budhe waktu kuliah, dan beliau adalah single mom dengan 3 anak, yang ada dalam pikiran saya waktu itu, harus cepat dapat kerja, kerja apa aja, yang penting ada hasilnya dan segera membahagiakan orang tua dan keluarga.

setelah lulus tahun 2003, sempat kerja bareng teman bikin konsultan, kerja pabrik punya bos orang jepang, kerja di asuransi sebulan, akhirnya berakhir kerja di pemerintahan.

sekarang, setelah berkeluarga dan punya 2 anak, rasanya pingin di rumah saja tapi tetap berpenghasilan. menemani buah hati yang sedang bertumbuh kembang. melakoni rutinitas rumahan, memasak, membuat kudapan dan merawat taman. saya pribadi juga masih menyimpan banyak impian.

apakah cita-cita ini masih akah berubah? saat ini yang ada di angan adalah keluar dari rutinitas kantoran, jadi orang rumahan tapi tetap berkarya dan menghasilkan. berjuang!

Gambar