ter ‘bay max’

sudah lebih dari sebulan ini anak-anak lagi suka dengan karakter Big Hero 6 (telat ya). suka ini dalam arti sering minta nonton film nya kalau malam sebelum tidur, sering minta digambarkan karakter Hiro, dkk (paling gampang kan gambar Bay Max tinggal bulet, bulet gitu aja, la kalau mintanya gambar Gogo, cs, garuk2 kepala dulu). selain itu kalau lagi di jalan atau toko ada barang (buku, baju, tas, topi, dll) dengan gambar karakter tersebut pasti langsung ribut.

Thariq lebih parah dari Vina, dikit dikit bay max, minum susu aja pake komen ‘bay max lo suka minum susu’, lagi makan sosis juga nyeletuk ‘bay max lo suka makan sosis’, pingin dibelikan es krim juga nyebut bay max. alhasil kalau dia lagi agak susah makan, bunda tinggal gampang aja mbujuknya ‘bay max lo makannya pinter, makanya perutnya gendut’. begitu juga kalau dia lagi ngambek, nangis, minta aneh2 yang ga jelas, jurus ampuh bunda ‘bay max lo, ga nangisan’.

bunda, lihat, aku kayak bay max

bunda, lihat, aku kayak bay max

DSC_4230

Iklan

Just Bee

Bee

Apa sih yang terpikir di benak ibu sampai akhirnya tercetak Bee di akta kelahiranku. Apa selama kehamilanku dia tidak pernah terbersit nama lainnya, atau di masa itu belum lazim penggunaan internet dan mesin google untuk mencari inspirasi nama bayi laki-laki? Tak terhitung sudah berapa kali kejadian mengiringi perjalanan umurku hanya perkara nama ini. kalaupun ingin nama yang sederhana dan mudah diingat, kenapa tidak memilih “Budi”, “Andi” atau “Rizal”? kenapa “Bee”? Tapi….dari kesekian peristiwa, siapa sangka juga kalau akhirnya aku bisa menemukan jodohku karena nama ini.

Masih terkenang olehku, kala itu masih balita dan masa perkenalan TK, dengan mudah teman teman sekelas mengingat namaku. Bahkan anak yang masih cadel sekalipun akan dengan mudahnya melafalkan ‘bi’, jika dibandingkan dengan nama temanku yang lainnya semisal “Arsyad”, “Lazuardi”, “Mahendra”, “Daniel”. Jika ada teman ibu, dokter, atau orang asing yang bertanya “siapa namanya?”, dengan tegas dan cepat kusahut “Bi”, dan jika diiringi pertanyaan lanjutan “Bi, siapa?”, aku jawab “Bi aja”. Raut muka yang kudapati pun beraneka, ada yang hanya tersenyum, ada juga yang raut mukanya datar tapi menyimpan pertanyaan, tak jarang ada pula yang meninggikan alisnya.

Masa sekolah dengan seragam merah putih, nama Bee masih menguntungkan. Ketika ujian sekolah, aku hanya butuh waktu 3 detik untuk menuliskan namaku. Meskipun aku juga mulai bertanya-tanya kepada ibu perihal namaku, apa artinya dan kenapa dipilih sebagai namaku. Dengan sederhana ibu selalu mengatakan, “Bee itu artinya lebah, binatang yang istimewa dan menjadi nama salah satu surat di Al-Quran, ibu pingin kamu jadi orang yang bermanfaat dan diingat, makanya pilih nama itu.

(tiba2 ada ide buat cerpen, masih bersambung)

bincang bocah 2

edisi ngobrol sama Lavina (Vina)

V: bunda, tahu nggak kesurupan itu apa?

B: mbak Vina tahu dari mana kesurupan itu?

V: Sasa yang bilang, kata Sasa Balqis lo kesurupan. kesurupan itu apa?

B: kesurupan itu kayak ga sadar, kayak pingsan gitu

V: kayak sakit ya? tapi Balqis kesurupan kok masih bisa nari?

B:??????

—————————————————-

V:  bunda, nanti kalau aku SD aku mau dipanggil ebigeil (dapat nama ini ketika nonton Big Hero 6)

B: lho, kenapa, namanya Lavina kok panggilannya abigail?

V: bukan abigail, tapi ebigail. kan bagus bunda

B: Lavina itu juga nama yang bagus, dulu bunda yang pilih nama itu buat mbak Vina

V: tapi aku pingin ganti nama ebigeil.

B: ya udah mbak Vina masuk perut lagi aja, nanti kalau lahir dikasih nama ebigeil

V: ga mau ah masuk perut, nanti jadi bayi lagi

B: 😉

My lovely Lavina

My lovely Lavina

sempat terganggu dengan quotebe leader or cheerleader” yang sempat diunggah teman di fb, tetapi penekanannya pingin memastikan dan memantaskan diri untuk jadi seorang leader.

tanpa mengesampingkan profesi cheerleader, tapi saat ini dalam hati saya, berdasarkan pengalaman pribadi, tiap orang pasti ingin menjadi seorang leader, namun tiap orang pasti juga punya wilayah/keterjangkauan masing2. ingin jadi leader nya siapa, ingin jadi leader dimana atau ingin dikenal/dikenang sebagai leader yang bagaimana. jujur saja saat ini saya merasa cukup menjadi leader untuk diri sendiri dan anak2. saya merasa kapasitas saya belum cukup mumpuni untuk bisa berpengaruh/mempengaruhi orang lain/suatu perkumpulan/suatu komunitas. predikat leader ini juga amat berat disandang meskipun untuk porsi terkecil sebagai leader untuk diri sendiri.

saya juga senang dan bangga kok jadi cheerleader, atau mungkin lebih pasnya supporter. jadi cheerleader garis terdepan untuk suami, jadi bagian penggembira ketika tahu ada temen yang sukses di suatu bidang atau profesinya. bagi saya ketika ada seseorang yang sukses haruslah ada orang lain yang bersorak sorai gembira dan memberinya semangat supaya sang leader bisa terus terpacu untuk mempertahankan prestasi bahkan meningkatkan kemampuan atau kapasitasnya.

jika ada seseorang yang sukses pastilah ada orang lain di baliknya. demikian pula dengan leader yang unggul dan tampil terdepan, pastilah ada banyak cheerleader di belakangnya ;).

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

ikut bangga ketika beliau dinobatkan sebagai walikota terbaik dunia (peringkat 3) dan mendapatkan gelar HC dari ITS

bincang bocah

karena sebagian besar niat ngeblog untuk menulis kenangan kanak2, selain itu ngobrol dengan anak2 sungguh merupakan momen ajaib sekaligus takjub dan susah dijabarkan, maka berikut akan saya tulis beberapa obrolan dengan anak2 supaya kelak ada jejak yang tersisa sehingga tidak mudah lupa.

Lavina :

-bunda, waktu aku lahir dulu warnanya apa?kok aku warnanya coklat, bukan putih kayak bunda dan Thariq?

-bunda, waktu aku lahir dulu gimana ceritanya?

-bunda, kenapa aku ga punya kekuatan seperti elsa (frozen)?

-bunda, kenapa sih ada laki-laki, ada perempuan? kenapa beda?

-kenapa sholat itu ada 2, 3 dan 5 rokaat? kenapa ga ada 1 dan 5?

-dulu waktu hamil itu bagaimana bunda?

-bunda, Thariq masuk ke perut lagi aja, aku maunya adik perempuan, 2.

-bunda, kenapa Abi lembur terus, apa kerjaannya banyak segini (sambil tangannya membentuk lingkaran besar).

-bunda, temen ngajiku lo dijemput bundanya.bundanya kerja tapi sore sudah pulang.

Thariq: bunda, Ares lo dimarahi Abinya, pegang listik (listrik)

sementara yang diingat masih ini =)

Lavina loves Thariq

Lavina loves Thariq

setahun kemarin

september 2013 berkesempatan pergi ke s’pore dalam rangka perjalanan dinas. alhamdulillah juga dapat kesempatan ini, karena yang berangkat personilnya terbatas (15 orang termasuk saya) dan bepergian tersebut bersama bu Wali (L1).

sebut saja acaranya adalah Perjalanan Dinas Delegasi Pemerintah Kota Surabaya Senin- Rabu, 9-11 September 2013, ‘CLAIR Urban Planning and Public Service Training’. Jadwalnya lumayan padat senin pagi dijadwalkan kumpul jam 6 pagi di Bandara Juanda untuk penerbangan jam 8.30. hari itu kami dijadwalkan tour ke Marina Barrage saja. saat itu L1 tidak berangkat bersama rombongan, beliau menyusul malam harinya. hebatnya, jam 10 malam beliau datang, saat itu kami sudah mulai cek in dan istirahat di hotel, L1 mengajak kami jalan-jalan ke tengah kota belajar tentang perkotaan dan penataan bangunan di s’pore. bener2 jalan kaki kami diajak keliling, menelusuri kota yang mulai sepi, sampai midnight pula, jam 00.30 baru sampai di hotel lagi untuk istirahat. jempol sepuluh deh untuk staminanya L1.

di roof top marina barrage ini bisa dimanfaatkan sebagai 'community public space,

di roof top marina barrage ini bisa dimanfaatkan sebagai ‘community public space,

konsep marina barrage

konsep marina barrage

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

211284712SAMSUNG DIGITAL CAMERASAMSUNG DIGITAL CAMERASAMSUNG DIGITAL CAMERASAMSUNG DIGITAL CAMERASAMSUNG DIGITAL CAMERASAMSUNG DIGITAL CAMERA

sementara posting day 1 dulu

drama ibu pekerja

sudah menjadi cerita biasa bahwa ketika sudah memiliki anak dan kembali ke rutinitas bekerja (di luar rumah), akan meninggalkan penuh cerita drama.

berbagai drama unik selalu meliputi ibu-ibu bekerja yang memulai lagi rutinitasnya ketika masa cuti melahirkan telah usai. mulai dari cerita pemberian ASI, baik ekslusif mau pun susu formula, atau campuran keduanya, sampai cerita tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak selama ditinggal ke luar rumah untuk bekerja.

semua ibu pasti tahu, bahwa ASI ekslusif adalah makanan terbaik untuk anaknya, demi mempersiapkan masa depan anak sejak dini. namun kadang ada beberapa hal yang menyebabkan ibu pekerja kurang maksimal memenuhi kebutuhan ASI untuk anaknya. tak perlu kita saling menggurui atau menghakimi, setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, saya meyakini itu. saya pribadi sangat bangga jika ada ibu bekerja yang sanggup lulus ASI 6 bulan, bahkan sampai dengan 2 tahun. perjuangannya mempersembahkan apa yang menjadi hak anak tersebut merupakan perjuangan yang luar biasa, perjuangan waktu, ekstra tenaga, persiapan peralatan memerah yang harus selalu terbawa ke kantor dalam kondisi steril, dsb. namun demikian saya juga sadar ketika ada ibu-ibu yang karena beberapa hal sehingga kurang optimal mempersembahkan ASI untuk anaknya dan menjadikan susu formula sebagai gantinya. terhadap kondisi yang demikian, menurut saya, janganlah ibu yang sukses ASI kemudian menyatakan komentar pedas atau merendahkan terhadap ibu-ibu yang kurang sukses ASInya. sesama ibu kita pasti sudah bergelut dengan perjuangannya masing2, every motherhood is unique yet magical.

demikian juga soal pengasuhan anak. ada yang ikhlas mundur dari pekerjaan kantor demi tumbuh kembang anaknya supaya tidak ada yang terlewat, namun banyak juga yang masih berkutat dengan rutinitas kantoran, menghadapi macetnya jalanan, multi tasking dengan pikiran bercabang dan menghitung tiap jam supaya tetap dapat memantau keadaan anak di rumah lewat telepon dan cara lainnya. banyak yang mencoba bertahan dan segala cara diupayakan. jangan tanya perasaan ibu-ibu bekerja ketika meninggalkan rumah untuk tetap bekerja sementara anak sedang sakit, perjuangan perasaan yang luar biasa juga. pastinya ibu pekerja juga punya perasaan iri dan berandai andai bisa di rumah seharian bersama anak-anak. tapi, hidup ini pilihan, dan tiap jalan yang kita pilih harus kita terima dan jalani dengan segala konsekuensi masing-masing. every motherhood is unique yet magical.

bekerja ataupun tidak, di rumah ataupun yang kantoran, setiap ibu pasti ingin mempersembahkan yang terbaik bagi anak dan keluarganya.setiap ibu pasti memiliki cerita dan perjuangannya masing-masing. sesama ibu-ibu mari saling mendukung jalan yang dipilih masing-masing tanpa saling sindir, menghakimi atau menggurui, justru sebaiknya kita harus saling support terhadap pilihan terbaik masing-masing.

secara pribadi, sekalipun bekerja di luar rumah, saya juga menyimpan impian untuk punya usaha rumahan. betapa saya harus menyimpan stok kesabaran ketika anak mulai rewel ketika kita pamitan kerja, ketika anak bisa berujar ” bunda jangan kerja” atau “aku mau ikut bunda kerja”, its really break my heart. memang segala sesuatu untuk anak dan keluarga pasti layak untuk diperjuangkan, mari saling support dan menghargai jalan masing-masing, karena setiap ibu pasti berjuang untuk menjadi ibu yang terbaik dengan versinya masing-masing.

ikut ke kantorga mau ditinggal pas hari sabtu