drama ibu pekerja

sudah menjadi cerita biasa bahwa ketika sudah memiliki anak dan kembali ke rutinitas bekerja (di luar rumah), akan meninggalkan penuh cerita drama.

berbagai drama unik selalu meliputi ibu-ibu bekerja yang memulai lagi rutinitasnya ketika masa cuti melahirkan telah usai. mulai dari cerita pemberian ASI, baik ekslusif mau pun susu formula, atau campuran keduanya, sampai cerita tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak selama ditinggal ke luar rumah untuk bekerja.

semua ibu pasti tahu, bahwa ASI ekslusif adalah makanan terbaik untuk anaknya, demi mempersiapkan masa depan anak sejak dini. namun kadang ada beberapa hal yang menyebabkan ibu pekerja kurang maksimal memenuhi kebutuhan ASI untuk anaknya. tak perlu kita saling menggurui atau menghakimi, setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, saya meyakini itu. saya pribadi sangat bangga jika ada ibu bekerja yang sanggup lulus ASI 6 bulan, bahkan sampai dengan 2 tahun. perjuangannya mempersembahkan apa yang menjadi hak anak tersebut merupakan perjuangan yang luar biasa, perjuangan waktu, ekstra tenaga, persiapan peralatan memerah yang harus selalu terbawa ke kantor dalam kondisi steril, dsb. namun demikian saya juga sadar ketika ada ibu-ibu yang karena beberapa hal sehingga kurang optimal mempersembahkan ASI untuk anaknya dan menjadikan susu formula sebagai gantinya. terhadap kondisi yang demikian, menurut saya, janganlah ibu yang sukses ASI kemudian menyatakan komentar pedas atau merendahkan terhadap ibu-ibu yang kurang sukses ASInya. sesama ibu kita pasti sudah bergelut dengan perjuangannya masing2, every motherhood is unique yet magical.

demikian juga soal pengasuhan anak. ada yang ikhlas mundur dari pekerjaan kantor demi tumbuh kembang anaknya supaya tidak ada yang terlewat, namun banyak juga yang masih berkutat dengan rutinitas kantoran, menghadapi macetnya jalanan, multi tasking dengan pikiran bercabang dan menghitung tiap jam supaya tetap dapat memantau keadaan anak di rumah lewat telepon dan cara lainnya. banyak yang mencoba bertahan dan segala cara diupayakan. jangan tanya perasaan ibu-ibu bekerja ketika meninggalkan rumah untuk tetap bekerja sementara anak sedang sakit, perjuangan perasaan yang luar biasa juga. pastinya ibu pekerja juga punya perasaan iri dan berandai andai bisa di rumah seharian bersama anak-anak. tapi, hidup ini pilihan, dan tiap jalan yang kita pilih harus kita terima dan jalani dengan segala konsekuensi masing-masing. every motherhood is unique yet magical.

bekerja ataupun tidak, di rumah ataupun yang kantoran, setiap ibu pasti ingin mempersembahkan yang terbaik bagi anak dan keluarganya.setiap ibu pasti memiliki cerita dan perjuangannya masing-masing. sesama ibu-ibu mari saling mendukung jalan yang dipilih masing-masing tanpa saling sindir, menghakimi atau menggurui, justru sebaiknya kita harus saling support terhadap pilihan terbaik masing-masing.

secara pribadi, sekalipun bekerja di luar rumah, saya juga menyimpan impian untuk punya usaha rumahan. betapa saya harus menyimpan stok kesabaran ketika anak mulai rewel ketika kita pamitan kerja, ketika anak bisa berujar ” bunda jangan kerja” atau “aku mau ikut bunda kerja”, its really break my heart. memang segala sesuatu untuk anak dan keluarga pasti layak untuk diperjuangkan, mari saling support dan menghargai jalan masing-masing, karena setiap ibu pasti berjuang untuk menjadi ibu yang terbaik dengan versinya masing-masing.

ikut ke kantorga mau ditinggal pas hari sabtu

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s