Alkisah ART

cerita tentang ART (Asisten Rumah Tangga) pasti ga ada habisnya.

mungkin baru habis atau berakhir kalau anak2 sudah mandiri, minimal kelas 3 SD dan sudah bisa bekerja di rumah sendiri (alias tidak terikat jam/ waktu kerja) — semoga bisa segera punya profesi dengan jam kerja yang flexibel.

semula ketika lahiran putri pertama, Lavina Putri Halimatuzzahrah, ketika cuti melahirkan akan habis, sudah memastikan bahwa Vina (waktu itu panggilannya Lala) akan dititipkan di Penitipan Anak sekitar Ngagel Tirto. jangan ditanya masalah tega ga tega, keputusan tetap harus diambil dan dipilih.

kurang lebih di penitipan ini sampai umur 6 bulan saja, karena pertimbangan vina sering sakit (entah itu tertular teman di penitipan atau imbas dari polusi di jalan/ waktu itu akomodasi dengan sepeda motor, si iwin). keputusan untuk “mengeluarkan” vina dari penitipan dan diasuh di rumah, setelah sebelumnya hunting pengasuh/baby sitter di beberapa tempat. gaji pengasuh bayi waktu itu/ tahun 2009 sekitar 1.250.000 sudah tergolong malang menurut saya, tapi pilihan telah ditetapkan.

Namanya mbak Tya (Cinthya- keren ya, nama kota gitu he..), bertahan hanya 1 tahun. ambilnya dari yayasan. setelah lebaran, pamit tidak kembali kerja dengan alasan akan menikah, yang akhirnya saya tahu, itu adalah alasan klise ART.

tahun kedua, dari yayasan yang berbeda, punya pengasuh namanya mbak Is (Istianah), hanya setahun juga. pas Thariq lahir , setelah lebaran mbak Is pamitan tidak balik kerja lagi, alasannya; menikah!

setahun itu merupakan waktu yang cukup lama ART mengasuh anak2. yang bekerjanya seminggu, 2 hari, bahkan semalam juga pernah. mbak pipit, seminggu aja sama vina, alasannya “adik ga mau sama saya bu”, he…vina memang waktu kecil susah sekali akrab sama orang. mbak lely (dapat dari saudara) cuma 3 hari, alasannya, ga jelas, katanya pokoknya pingin pulang. ditanya kenapa ga kerasan, ga dijawab. ditanya apa pekerjaannya terlalu berat, ga dijawab juga. bingung dah, ya wis lah ga maksa. rekor jatuh pada mbak legini (dari desa saya), cuma semalam saja di rumah saya, besok paginya ngotot ga mau kerja dan mau balik ke tempat kerja yang lama. dari para ART kita belajar ikhlas dan sabar yang tak berbatas.

kemudian ada rekomendasi dari yang biasa bantu di rumah (bu Nem), ada tetangga kontrakannya yang butuh kerja, mbak Titi. meskipun bukan dari yayasan, tapi bergaji sama dengan suster-suster yang mengasuh bayi. ini juga satu tahun saja, berakhir dengan alasan mau nikah! baiklah, lama-lama terbiasa dengan alasan seperti itu, kerja ART yang tahunan seperti itu, dengan semua drama tingkah polah ART, dibilang makan ati, ya…pelajaran sabar dan memang saya butuh tenaga mereka adalah alasan untuk tetap menggunakan jasa ART.

adalah bu Dar (tetangga di desa) yang kemudian mengasuh Thariq Haidar Nur Ramadhan. lumayan berumur, karena sebelumnya ART saya masih lebih muda usianya, bu Dar ini saya yakini bakal lama kerja di rumah (minimal lebih dari setahun). tapi ternyata ga sampe setahun sudah cabut juga, alasannya: anak yang pertama lulus SMA, dan yang kedua mau SMP sama2 butuh perhatian beliau. ya sudahlah, meskipun keputusan yang tiba-tiba ini tanpa antisipasi jadi tidak punya pengganti untuk ngasuh anak2 (waktu itu seingat saya sekitar Mei 2013).

kemudian ada informasi bahwa ternyata mbak Titi balik ke Surabaya untuk bekerja. akhirnya dia mau jadi ART tapi ga nginep, datang pagi, pulang setelah saya pulang kerja. diterima aja, daripada ga ada, memang lagi butuh bisa apa saya? tapi kemudian dia sakit dan pulang kampung, sembuh, kerja lagi dan sakit lagi lalu pamitan ga boleh kerja lagi sama keluarganya, oh sungguh drama. di selang waktu itu ada bik Sum (dulu ART tetangga rumah) mau kerja tapi ga nginep. ya wis sekarang bik Sum ini yang ngasuh anak2.

sampai akhirnya per selasa 29 April kemaren ada mbak juwariyah, ART dan mau nginep. semoga kerasan, semoga anaknya baik dan jujur, semoga anak2 juga suka, semoga…

yang terpenting semoga saya bisa segera bebas menentukan jam kerja saya dan bebas ART. amin.

dalam rangka Hari Buruh (meski telat sehari), saya juga masih merasa sebagai buruh/ abdi yang kerjanya digaji berdasarkan absensi =), kuatir banget telat henki, kalau teman lainnya lembur tapi saya pulang duluan, rasanya sungguh keki.